Protes

Kata teman gue, jangan terlalu banyak protes dan mengkritik…tapi gimana yah, gue tuh gak bisa nahan apa yang ada dipikiran, makin pusing gue….

Yup..gue pusing setiap liat artikel dan nonton tv, apa coba seolah-olah bangsa ini pengen dicetak jadi artis seluruhnya…banyak kegoblokan didalamnya. Artis yang gak hapal pancasila, jadi duta pancasila. Artis yang melakukan hal-hal sosial langsung disorot dan dipuja-puja bagai dewa atau dewi negeri ini…kadang gue berpikir, entar artis bersihin sampah jadi duta sampah, artis yang bersihin kali jadi duta kali yah…coba aj bukan artis yang lakuin hal-hal yang begitu bermanfaat, gak diberi penghargaan apa-apa tuh…

Liat televisi yang isinya sinetron yang menghancurkan anak bangsa. Ada teman gue bilang, “jangan terlau protes, butuh hiburan dong, gak mungkin semua positif.” Eeeh..tapi gimana ya, gue gak bisa gak peduli. Bukannya hiburan gak perlu, tapi menurut gue gak seimbang banget atau bahkan timpang. Anak-anak sekarang jadi gak rasional dan kurang kritis.

Paling miris pas gue naik angkot mau ke kampus, ada beberapa anak SMP yang satu angkot dengan gue. Gue bukan hanya terganggu dengan suara yang terlalu berisik, tapi otak gue gak habis pikir dengan candaan dan obrolan mereka. Omongannya tuh yah, “smartphone yang mau keluar apa, gue mau ganti hp soalnya ini spesifikasi nya begini-begono, dan ntar kita facial dimana yah yang murah atau kalau gak yang kualitas nya murah tapi gak mahal-mahal amat dan bla-bla”. Gue mikir apa gue yang kelewat misikin dan sirik apa yah, kan gak salah mau facial atau belanja apa pun itu, duit kan duit dia bukan duit gue. Tapi tetap aja gue mikir, negara gue tercinta masih negara berkembang tapi kaya-kaya yah. Aduh gue misikin banget ni, selama gue hidup gak pernah facial tuh, paling creambath doang, itu juga kalau mau potong rambut, kalau dihitung-hitung rugi kalau gak creambath, yah di tempat gue biasanya potong rambut, ada bonus gtu…jadi sayang klw gak creambath dan potong rambut. Nyampe dikampus gue gak bisa berhenti mikir, gue keinget masih banyak di plosok negeri yang butuh bantuan bukan cengar-cengir dan cekikan-cekikan tentang hal-hal yang buat hati tuh miris banget. Gue keinget ketika kuliah lapangan, para nelayan di sebuah desa tuh miskin banget, yang harus berhutang ke tengkulak dan jual ikan yang harga dengan murah untuk bayar utang, terus minjem lagi dan bayar lagi.

Pekerjaan bangsa ini masih banyak, ada hal yang harus dibereskan…tapi kalau anak SMP aja ngomongin hanya hal-hal kemewahan dan mikirin konser apa yang harus ditonton, mau jadi apa bangsa ini?

make up
kedaan anak sekolah zaman sekarang lebih baik make up dibanding ngerjain tugas atau belajar…miris banget ya, perlahan generasi zaman sekarang makin dihancurkan oleh penggunaan smartphone, trend yang harus dikuti setiap saat

Gue gak bilang gak boleh suka artis, aktor, dan penyanyi atau apalah yang menjadi idola seseorang, tapi coba kurang-kurangi deh alay-alay anak-anak zaman sekarang. Bisa-bisanya gak makan 2 hari hanya nunggu idola di bandara dan nonton konsernya. Masih banyak masyarakat yang mengulurkan tangan meminta bantuan, kita seharusnya mikirin yang lebih penting dan berbobot juga, mikir gimana sesegera mungkin memperbaiki hubungan dengan alam, yang sekarang alam gak bisa bersahabat lagi dengan manusia, sampah, macet, kemisikinan, pola pikir kita yang masih jauh dari harapan, dan masih banyak hal-hal lain…ooh mari kita lebih kritis, rasional, punya prinsip, lebih kreatif supaya gak jadi pengguna dan pemakai doang, dan gak diombang-ambingkan oleh teknologi zaman sekarang.

Iklan

yes or no?

LGBT

Yes or NO?

Maraknya pemberitaan LGBT di televisi saat ini, mengingatkan saya akan film yang berjudul Prayer’s for Bobby. Film ini menceritakan anak muda bernama Bobby yang gay. Setelah menonton film tersebut, saya berdebat dengan teman saya lantaran teman saya menjadi mendukung LGBT. Ada beberapa bagian yang tidak saya setujui dari film ini, yaitu pendeta yang saya anggap mengarah kan dan membiarkan mereka tetap menjadi gay. Hal-hal yang dapat saya petik dari makna film ini adalah sebagai orang tua kita harus memberi advice atau nasihat yang bersifat dua arah bukan searah. Film ini menggambarkan mama Bobby yang hanya memberikan larangan tanpa ada advice yang bersifat dua arah. Mama Bobby terkesan hanya memberikan larangan-larangan berupa kiat-kiat yang hal tersebut dilarang oleh agama. Kesalahan lain menurut saya adalah bahwa Boby hanya sadar dia berbeda dengan pria normal tetapi tidak merasa bahwa apa yang dialami adalah suatu hal yang najis dan tidak memandang bahwa apa yang dialami adalah suatu penderitaan yang sebetulnya tidak harus ditanggung. Pelajaran lain dari film ini adalah bertemu orang yang salah, Boby bertemu seorang gay yang menjadi pacar nya dan keluarga dari pasangannya menerima dan tidak melarang sama sekali. Perbedaan antara keluarga Boby dan orang tua David yang juga gay membuat Boby kebingungan dan mengakhiri hidupnya. Film ini adalah kisah nyata yang perlu kita sikapi dengan bijak, agar kita dapat belajar dari kesalahan. Pelajaran lain yang dapat saya ambil dari film ini adalah bahwa Boby menjadi tidak terselamatkan karena Ia tidak mendapatkan konselor yang tepat, yaitu psikiater yang dipilih oleh Ibunya. Tidak semua orang memang bisa menjadi konselor, jika ada teman, saudara, anak yang menghadapi situasi ini maka perlu dibawa ke konselor yang dipercaya dapat membantu untuk melepaskan teman, saudara, anak atau siapa pun dari LGBT untuk dapat menjadi normal.

Film Prayer’s for Bobby mungkin bisa jadi positif atau negative bergantung cara pandang kita dalam memaknai film ini. Negative karena saya menganggap di akhir film ini, menjadi mendukung LGBT. Positifnya adalah banyak hal yang dapat kita ambil hikmahnya seperti cara mendidik anak yang sedang menghadapi kasus LGBT. Saya memang tidak tahu pasti seberapa banyak orang-orang yang mendukung atau tidak mendukung para LGBT, tapi bagi saya kita harus menolak hal ini. Dasar yang membuat saya menentang hal ini adalah karena pada dasarnya LGBT merupakan suatu hal yang bukan nature, namun terjadi karena adanya faktor lingkungan. Ketika menonton berita tentang LGBT, saya merasa masih ada orang-orang yang mendukung LGBT, entah itu dengan alasan kasian dan hal itu merupakan pilihan hidupnya yang kita tidak usah repot-repot untuk perduli, dan banyak alasan lainnya. “Pertanyaan saya adalah kenapa kita harus mendukung hal ini?”…yang pada dasarnya adalah sesuatu yang tidak perlu kita dukung. Sadar kah kita bahwa LGBT akan berdampak besar bagi anak-anak zaman sekarang, yang mungkin bisa meniru dan semakin berani tanpa rasa bersalah menyatakan dirinya bahwa ia adalah seorang gay, lesbi, biseksual, ataupun transgender. Oleh karena itu, betapa celakanya bangsa kita jika kita mendukung LGBT. Jika kita memiliki teman, anak, saudara ataupun pacar yang mengalami hal ini, hal yang dapat kita lakukan adalah menerima terlebih dahulu, tanpa merendahkan, mengejek, ataupun bersifat menyudutkan, kemudian memberi advice yang tegas bahwa LGBT adalah hal yang salah, keliru, perbuatan yang dilarang dan penyakit yang harus disembuhkan. Tidak mudah memang mengungkapkan pendapat atau masukan kepada para LGBT agar dapat berubah menjadi normal, tetapi setidaknya sudah berusaha untuk memberikan masukan berupa advice maupun saran yang mungkin dapat menolong para LGBT untuk mengubah keputusan nya menjadi keputusan yang tepat, yaitu menjadi normal. Keputusan adalah kunci yang sangat penting untuk menentukan arah tujuan hidup, didalam menentukan keputusan maka akan ada keyakinan, dengan adanya keyakinan maka akan ada pengharapan. Keputusan yang benar mengarahkan perubahan yang sehat.

Saya setuju bahwa para LGBT memilki hak, baik itu hak untuk hidup, kesejahteraan, dll. Namun, tidak berarti kita menjadi pendukung para LGBT. Kasus LGBT bukan hanya pernah terjadi seperti saat ini, jauh sebelumnya di zaman para nabi juga sudah ada, seperti Sodom dan gomora. Secara agama hal ini merupakan perbuatan dosa, yang artinya dilarang oleh agama. “Tidak mampukah para LGBT berubah dan membereskan situasi yang mereka hadapi?.’’jawabannya adalah bisa, karena penyebab LGBT merupakan faktor lingkungan, yang bukan nature, hal ini dibuktikan secara ilmiah yang belum dapat dijelaskan secara gamblang bahwa LGBT disebabkan oleh genetik.

Badai, part 1

SMA 5 KENCANA

Strategi


Ketika SMP aku berencana dengan teman dekatku untuk melanjutkan di SMA yang sama, tetapi semuanya adalah rencana yang tidak akan mungkin terjadi. Keadaan menjadi berubah, segala rencana berbalik arah menjadi keinginan yang gak mungkin terlaksana. Ketika aku ingin lulus, tepatnya saat kelas 3 SMP, Ayahku kembali kepangkuan Bapa. Harapan untuk menuju SMA yang aku inginkan telah sirna. Ibuku mengantarkan ku ke SMA yang dekat dengan rumah, agar biaya lebih ringan. Singkat cerita aku pun mendaftar di SMA yang menjadi pilihan Ibuku. Aku tidak menolak mama secara terang-terangan karena gak mau buat mama sedih dan mungkin cukup tau diri jika aku tidak memaksakan kehendak. Namun sesungguhnya aku tidak menerima keadaan, aku menolak Ibuku. Yah…aku menolaknya dengan merancang strategi agar aku gagal diterima di SMA tersebut, yaitu SMAN 5 Kencana.

Hari senin adalah hari dimana aku akan mengikuti tes tertulis sebagai syarat yang harus aku jalani agar dapat diterima di SMA tersebut. Tapi bagiku ujian tes tertulis bukan lah suatu perjuangan untuk dapat diterima melainkan sesuatu kesuksesan jika aku tidak diterima, sehingga aku dapat terbebas dari sekolah yang tidak ada seorang pun yang kukenal ditempat ini, selain Eva yang satu kompleks dengan rumahku. Strategi yang pertama adalah dengan tidak mengerjakan tes sama sekali. Kertas ujian diatas meja tidak ku isi, “jangankan mengisi, membaca nya pun tidak” aku mengeluarkan pena mencoret-coret kertas tersebut, seolah-olah mengerjakan seperti teman yang lain, padahal aku hanya menorehkan ungakapan-ungkapan perasaan yang berasal dari pikiranku. Aku merangakai kata-kata sampai waktu yang ditentukan habis. Saat itu aku ingin keluar lebih awal dari waktu yang ditentukan, tapi aku takut si pengawas akan memeriksa dan melihat bahwa aku tidak mengerjakan satu soal pun, jadi kuputuskan untuk tetap berada di kelas dengan merangkai kata-kata indah dikertas ujian sampe waktu yang ditentukan habis.

“Felice, gimana soal ujiannya?” Tanya Eva kepadaku.

“Ehmmm…kayaknya aku gak bakal ikutan tahap wawancara deh”.

“Kenapa, kok ngomong gitu?”. “Karena soalnya susah banget Eva, jadi gak mungkin bisa lulus tes nya”. Jawab ku bersandiwara.

“Gak boleh ngomong kayak gtu tau, harus optimis”. Seru Eva memberi dukungan, yang sesungguhnya tidak kubutuhkan.

“iya Eva”. Jawab ku untuk mengakhiri pembahasan ini, karna ini akan menjadi pembahasan yang panjang jika aku tidak mengakhiri, lagian untuk apa berdebat terhadap sesuatu yang telah aku tahu akan hasilnya, pikirku dalam hati.

Strategi kedua adalah berbohong. “Ma, minta uang lah mak buat ongkos (biaya transportasi) ke rumah kakak kelas ku waktu SMP ngambil buku SMA yang nggak dipake lagi, biar gak beli buku nanti”. Pintaku dengan nada memelas. Aku berbohong pada ibu ku agar aku dapat mengantarkan berkas-berkas untuk mendaftar di SMA yang aku inginkan.

“Eeeh gak usah palah repot-repot pergi ketempat temanmu kau, itu banyak buku dibawa kakak mu dari kampung”. Dengan logat batak mamakku menolak permintaanku.

“iiih mak, kalau buku dari kampung itu beda sama disini, gak sama, gak kepake nanti”. Aku pun melakukan pembelaan atas balasan Ibuku yang tidak mengijinkan ku pergi menjemput buku bekas.

“Ise mandok dang sarupa? (siapa bilang gak sama?), sama nya isinya, uda kutanya kakakmu, tapi memang kalau halamannya ya beda lah, buku kakak kelas mu itu pun gak sama halamannya itu”. Dari perbincangan yang panjang ini, intinya mamak tidak memberikan duit sedikit pun untukku. Jantungku langsung berdegup kencang, memutar otak yang tidak menemukan ide, kulihat jam didinding pukul 8, yang artinya pendaftaran telah dimulai.

Setelah berdebat dengan mama, aku bergegas lari kekamar, mencari ponsel dan segera mengirimkan pesan keteman bahwa aku kemungkinan tidak jadi mendaftar. Setelah itu aku berpikiran untuk meminjam uang ke Eva. “Tapi, dia mau gak yah…aku kan gak begitu dekat dengannya, masak harus minjem duit sih”. Seruku dalam hati. Setelah berpikir dan berpikir aku tidak menemukan solusinya. Mataku memerah, jantungku berdetak kencang, perasaan takut “dikejar-kejar oleh insting yang menyatakan bahwa aku tidak akan dapat melanjutkan sekolah”, perlahan-lahan aku meneteskan air mata, menangis terisak-isak dan segera berlutut berdoa mencari ketenangan dari pikiranku yang berkecamuk.

“Tuhan dalam setiap kesalahanku, ampuni aku, maafkan jika aku terlalu egois. Bapa aku terlalu bodoh untuk mengambil keputusan secara sepihak dan melakukan tindakan-tindakan yang tidak berkenan dihadapan mu, namun berilah mujizat agar aku dapat tetap sekolah. Amin”. Ini adalah strategi yang ketiga…yup berdoa. Berharap agar tetap dapat bersekolah, diterima di SMAN 5 Kencana. “Tapi bagaimana mungkin?..aku kan gak ngerjain tes nya, tamatlah riwayatku, betapa malunya aku nanti jika tidak disekolah”. Aku mengomel sendiri didalam kamar yang kosong, berharap dinding-dinding kamar menenangkanku dari rencana yang ku anggap brialliant.

Setelah seminggu berlalu, saatnya pengumuman di SMAN 5 Kencana, pengumuman hasil ujian tertulis. Katanya sih kalau udah dinyatain lulus, wawancara uda formalitas doang, soalnya yang diwawancarai adalah orang tua dan murid, mungkin agar orang tua dan murid sama-sama dapat memahami peraturan sekolah sesungguhnya. Aku dan ibuku berangkat bersama-sama dengan Eva dan juga ibunya untuk melihat hasil pengumuman. Didalam perjalanan ada hal-hal yang membayang-bayangiku. “Mana mungkin lulus, aku kan gak jawab apa-apa, muda-mudahan puisiku dibaca dan seseorang yang memeriksanya berbelas kasih untuk melihat sifat kelabilanku ini”. Aku berkata dalam hati.

Sepanjang perjalanan di bus aku merasa tubuhku berada disana, tapi jiwaku melayang-layang entah kemana. Hal ini terbukti dari pembicaraanku dengan Eva yang kadang-kadang ngaur, aku sering kali salah dalam menanggapi cerita-ceritanya.

“Felice gimana sih?…jawabnya serius dong?”

“Ha?…iya-iya”. Wah wajahnya cemberut sepertinya dia ngambek, tapi aku tetap tidak peduli, aku bodoh amat tentang hal itu. Aku berpikir lagi dan lagi. Aku membayangkan keluargaku tiba-tiba menjadi millionaire, dengan begitu pasti aku tetap bisa sekolah. Aku tetap bisa melanjutkan ke sekolah swasta tanpa harus ke negeri. Pikiranku pun semakin melayang jauh, tiba-tiba saja aku memikirkan tentang Harry di sekolah Hogwarts nya. Aku mengenang keadaan Harry di serial Harry Potter dan Orde Phoenix. Aku membayangkan betapa galaunya Harry saat itu, semua keadaan membuat Harry ingin sekali meninggalkan Hogwartz. Belum sempat aku mengakhiri mimpi panjangku di bus, Eva sudah menghentikan lamunan ku.

“Felice, ayo bangun…bangun”. Ia mengguncang-guncangkan tubuhku, yang sama sekali tidak tertidur. Aku hanya memejamkan mata untuk berimajinasi tentang solusi buat keadaanku. “Iya ratu bawel”. Jawabku bangkit dengan perasaan yang berat meninggalkan kursi mimpiku.

Saat tiba di SMA Kencana, dengan segera Eva berlari menuju papan pengumuman yang telah banyak dikerumuni oleh orang lain. Sedangkan aku berjalan perlahan-lahan menuju papan pengumuman berharap ada mujizat yang terjadi. Kulihat orang-orang disekelilingku tertawa bersama-sama dan berbincang-bincang dengan yang lainnya, aku gak tau pasti apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi yang pasti raut wajahnya 180˚ berbeda denganku. Kemudian aku menoleh ke Eva yang masih mencari-cari nama nya di papan pengumuman dan aku berusaha menguatkan diri berdiri tepat disamping Eva untuk membantunya melihat hasil pengumuman. Aku langsung melihat daftar yang tidak lulus ada sekitar 15 orang, nama ku tidak tercantum dan Eva juga tidak. Ketenangan sedikit muncul dalam tubuhku yang sepanas matahari dan hatiku yang sedingin es.

Tiba-tiba…“Felice aku lulus, yeyeye aku lulus…”. Eva memelukku, meloncat kegirangan, kemudian Ia tersadar bahwa wajahku tidak bahagia. “Felice, kenapa?”.

“Nggak kenapa-napa kok va, emang kenapa?”. Balasku tersenyum kecut.

“Kau lulus gak?”. “Kayaknya, enggak deh va”.

“Ah masak…gak mungkin, kau gak benar liatnya kali, coba aku liat sekali lagi yah, disini yang gak lulus gak ada namamu kok, berarti lulus. Ehmmm…. (Dengan mata yang teliti sambil jari telunjuknya menjalar diatas pengumuman), nah ini dia Felicia Margaretha, kau lulus fel (sambil mengguncang-guncangkan tubuhku) dan bahkan masuk peringkat 15 besar…gimana sih, mau pamer yah?”. Seru Eva kepadaku.

Tanpa berbikir panjang, aku langsung memastikan kembali. “Siapa tau ada dua yang namanya Felicia Margaretha”. Pikirku dalam hati.

“Kamu liat apa sih Fel, ngapain sampe liat kebawah lagi dan liat satu-satu, kan namanya uda ketemu”. “Siapa tau namanya sama va. Hehehe… gak ada ternyata, emang namaku kayaknya”. Dengan nada datar aku menjawab Eva yang menungguku dengan sedikit kesal. “Yah uda, yuk kita nemui mama kita dikantin, ngasih tau hasilnya”. “Ayok”. Jawabku dengan simpel.

Kami pun menemui ibu kami dan mengatakan kami lulus, kemudian kami pulang. Sesampai nya dirumah, aku menuju kamar langsung mengganti pakaian tanpa makan terlebih dahulu, aku mengurung diriku dikamar. Aku berpikir dengan keras kenapa aku bisa lulus. “Kemungkinan aku lulus adalah bahwa seseorang yang memeriksa ujianku sangat tertarik dengan ungkapan-ungkapan ku, tapi kenapa aku masuk 15 besar, ini kan sangat konyol, satu-satunya yang pasti ujian tidak diperiksa, itu hanya lah sebagai formalitas. Kemungkinan penilaian adalah nilai ijazah”. Pikirku dalam hati.

Semua yang telah terjadi menyadarkanku tentang hal apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidupku, semua tidak bisa dilakukan sesuai dengan jalan pikran ku. Apa lagi rencana konyol yang hanya memikirkan tentang sekolah yang sama dengan sahabat SMP ku, toh tanpa bersekolah disekolah yang sama, kita masih bisa berteman. Aku menyadari bahwa Tuhan membuat segalanya untuk kebaikan ku. Aku belajar bagaimana Tuhan membuat segalanya baik. Dengan sekolah di SMAN 5 Kencana, aku dapat meringankan beban orang tuaku.

Khayalan

Khayalan
Oleh : Alfriana Margareta

Terdiam…duduk disini
Lelah pikiranku menerawang jauh
Membayangkan mu menguras ion tubuh
Terbakar oleh rasa cemas yang menggebu

Mengenang…
Jiwaku terhanyut dikeheningan malam
Tulang-tulangku gemetar tak karuan
Tapi tetap saja ada potongan yang terhilang

Aaah…Bodohnya pikiranku yang terpendam
Hanya mengenang dan menunggu pengertian
Kini tinggallah pertanyaan menantikan jawaban

Terjaga…
Dari lamunan panjang tentang mu
Berhenti….
Tanpa sampai di puncak khayalan

Kupejamkan mata
Meminta penjelasan dari pikiranku yang berlayar jauh
Demi mendapatkan keteduhan dan ketenangan
Dari jiwaku yang haus tentang mu

Perlahan-lahan kubuka mata ku
Dan aku selesai….

Berakhir

Berakhir

oleh : Alfriana Margareta

Sudah berapa lama ku menunggu
Menuggu untuk suatu hasil
Akhirnya …
Datang dan kembali lagi
Kufikir inilah saat kesempatan dan pertunjukan
Ternyata ..Sesuatu yang retak tak dapat dipulihkan

Jurang luka yang begitu dalam
Yang mulai terasa perih
Rasa perih yang terlalu lama berlayar
Tidak ada jalan untuk kembali

Kesempatan memaafkan telah hilang
Tak ada petualangan yang tersisa
Untuk berlayar lebih jauh lagi
Sayang sekali..
Aku ingin menggenggam untuk yang terakhir kalinya

Deru ombak memanggil pulang
Tak didengar…
Angin kencang mengucapkan selamat tinggal
Untuk si penakut
Kini berakhirlah persaudaraan kita
Pergi dan tak kan kembali lagi

Hatiku dan Hatimu

Hatiku dan Hatimu

oleh : Alfriana Margareta

Aku datang, lalu suatu hari kematian akan menjemputku
Akan kutinggalkan goresan kuas kehidupanku pada waktu
Kutitipkan nyanyian hatiku pada sudut-sudut waktu
Aku adalah hatiku, kamu adalah hatimu

Aku datang, bertemu banyak hati disini
Kaupun datang, lalu bertemu banyak hati disana
Hatiku dan hatimu, disini dan disana
Aku sungguh ingin rasakan, apakah isinya hatimu?